Cinta memang
sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa
cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekasih hati menjadikan cinta
itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cinta maka
empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak
menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidakdibentengi dengan rasa keimanan. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang
dibolehkan dan mana yang dilarang.
Dengan adanya cinta khususnya muda mudi mempunyai kebiasaan yang terkadang melanggar norma-norma agama, kebiasaan tersebut adalah pacaran. Dan ini sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan dikalangan muda-mudi khususnya zaman sekarang, tanpa pacaran, menurut mereka, cinta ini hambar bagaikan sayur tanpa garam. dengan dalih pacaran itu adalah media untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya, sehingga kalau tidak ada pacaran bagaimana bisa kenal dengan kekasih kita.
Dikatakan bahwa pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak
dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu
di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan
guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam
kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran
nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan
perkawinan
Hal ini
tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika
ada sifat-sifat sebagai berikut :
- Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
- Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.
- Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.
Tapi tanpa
disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta makin tinggi. Di
sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan
dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah
tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran
selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan
tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian
menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap
kehormatan secara haram.
Menurut pendapat Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim
tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya
akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya
telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul
keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. “
Maka dari itu Allah telah menjelaskan didalam alquran tentang hukum pacaran dalam islam surat al-isro ayat 32
ﱺ ﱻ ﱼﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ
"Dan jaganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang kotor dan jalan yang sesat"
Menurut pandangan mereka bahwa pacaran itu adalah suatu keharusan dalam bercinta,
Karena
mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah
mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari
itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang
pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan,
dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah
yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah
bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari
itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan
kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis
yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan menghayal,
zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran
adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi
kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Untuk menjelaskan hukum pacaran dalam islam Rosulpun bersabda :
Rasulullah
bersabda,
” Telah
tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya,
tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar,
zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah
berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh
kelaminnya atau didustakannya.”
Jika kita
sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist ini dengan kepala dingin maka
dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang
tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama
manusia. Dan kapan saja, diman saja, perasaan tak pernah puas itu selalu
memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini. Pacaran adalah
sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta.
Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
- Perjumpaan pertama, yaitu perjumpan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis, pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudaian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, “Akankah ia mencintaiku.” Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
- Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, “Aku mencintaimu”. Si Juliet akan sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Romeo akan membelinya dengan, “I LOve You”. Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan pun dibuat, ada ijin sang romeo untuk datang kerumah, “Apel Mingguan atau Wakuncar “. Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
- Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. ” buktikan cintamu sayangku”. Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na’udzubillah
Begitulah
akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis
telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda
gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan, dan cium
sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan
yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan .
Segalanya telah diberikan sang juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo
bertanggung jawab ? Ternyata sang romeo pergi tanpa pesan walaupun datang
dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet.
Wahai para
Muslimah sadarlah akan lamunan kalian , bayang-bayang cinta yang suci,
bukanlah dengan pacaran , cobalah pikirkan buat kamu muslimah yang masih
bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti
pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan
renungkan ! Kami tanya :
- Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya ? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya ? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta ? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
- Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu ? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan ? ” Aku ingin calon pendamping yang baik-baik” Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi ” Aku bukan calon pendamping yang baik” , bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu ?
- Jika kamu disuruh memilih diantara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari’at agama, yang mana yang akan kamu pilih ? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya Khan ? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ?
- Bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/ suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi ? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain ?
- Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan ? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap ?
- Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda ? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret Ortu kamu ke dalam neraka Api Allah ? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah.
Karena itu
wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang
telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari daripadanya melainkan akan
binasa dan hancur.
pada intinya dari pembahasan diatas bahwa hukum pacaran dalam islam itu adalah haram.
Demikian semoga bermanfaat.
0 Response to "Hukum Pacaran Dalam Islam"