Saat ini umat manusia berada dalam suasana pandemi global. Hal ini
dirasakan oleh hampir seluruh dunia termasuk Indonesia. Sejauh ini kasus pasien
positif Covid-19 di Indonesia sudah hampir menyentuh 3000an orang. Bahwa dalam
keadaan wabah seperti ini, upaya yang harus dilakukan adalah tetap merawat
sikap yang benar. Ketika datang ancaman kesehatan, orang perlu perhatian serius
dengan sikap yang tepat.
Dalam pesan Rasul menegaskan bahwa kesehatan harus dijaga dengan baik.
Hadis Nabi tentang lima hal sebelum datang lima hal yang lain, salah satunya
ialah menjaga kesehatan sebelum datang sakit. Karena menjaga kesehatan sebagai
perintah yang disampaikan Rasul, maka kita harus senantiasa merawatnya dengan
baik. Itu bagian dari ibadah,
Kesehatan mungkin bukan segala-galanya, tapi tanpa anugrah sehat dari
Allah, segalanya tak dapat dinikmati dengan baik. Sebagaimana Sabda Nabi yang
menyatakan bahwa ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu
nikmat sehat dan waktu senggang.
Bagaimana sikap kita? Ada sebagian sikap kaum muslim yang mengatakan bahwa
bukankah kematian itu di tangan Allah? Kalau Allah menjadikan sehat ya sehat,
kalau sudah sakit ya sakit. Padahal kita perlu ikhtiar dalam menyikapi pandemi
global ini,.
Justru karena takut kepada Allah, maka menghadapi virus ini harus dengan
sesuai tuntunan-Nya. Pada saat wabah terjadi di zaman Rasul, beliau memberi
tuntunan dalam sebuah hadis yang isinya ketika di suatu tempat ada wabah, maka
tidak boleh orang yang berada di lingkungan wabah itu keluar dari tempat itu.
Dan orang yang di luar tidak boleh masuk ke dalam tempat wabah beredar. Tuntunan
dari Rasul tersebut adalah sebagai bagian dari ikhtiar.
Di antara ikhtiar-ikhtiar sebagai akhlak kita, agar kita yang sehat supaya
tidak jadi bagian yang tertular covid-19. Ini penting. Karena kalau kita salah
dalam mengambil sikap, virus dapat menimpa dan memperburuk kesehatan kita,
Satu-satunya kepastian di masa depan adalah kematian. Waktu kematian
seseorang memang sudah ditentukan Allah. Namun, kematian merupakan peristiwa
yang misterius sehingga manusia harus berupaya untuk tetap merawat kehidupan
dengan baik. dalam QS. Al-A’raf ayat 34 yang artinya, ‘Tiap-tiap umat
mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.’
Sebagai seorang mukmin tentunya panutan kita adalah Nabi Muhammad sebagai
uswatun hasanah. Ketika ada ikhtiar physical distancing, mencuci tangan dengan
sabun, memakai masker dan lain-lain, semua adalah akhlak seorang mukmin ketika
menghadapi Covid-19,
Covid-19 secara keilmuan lawannya adalah sistem imun manusia. Pertahanan
satu-satunya yang bisa diandalkan untuk saat ini adalah imunitas masing-masing.
Maka ketika vaksin anti virus belum ditemukan, kita berusaha menjaga bagaimana
agar tubuh tetap dalam kondisi optimal.
Cara agar imun tetap optimal: pertama, makan makanan yang halal dan
thayyib, yang mengandung nutrisi yang baik, yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi
bukan hanya halal tetapi juga harus thayyib untuk tubuh kita. Kedua,
istirahat yang cukup. Rasul pernah mengingatkan sahabat yang malamnya terus
dipakai ibadah, dengan mengatakan bahwa semua tubuh itu memiliki hak untuk
istirahat agar seluruh tubuh tidak mudah rapuh. Ketiga, kita jaga emosi, tetap
optimis. Tidak perlu galau dan cemas, apalagi panik dan marah-marah sampai
memiliki pikiran negatif. Dalam kondisi emosi negatif, sistem imun dalam tubuh
kita akan turun. Karenanya, kita harus tetap semangat, yakin,
Dalam menyikapi wabah global ini disikapi dengan optimis bahwa semuanya
akan berakhir. Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan Muslim menyebutkan bahwa
setiap penyakit yang Allah turunkan akan disertai dengan obatnya.
Yang lebih penting lagi, selain menjaga kesehatan fisik dan mental, kita
harus bangun peran spiritual dengan baik. Salat jalan terus di rumah. Jadi kita
menjalani salat di rumah, sesungguhnya sedang menjalankan sunnah Nabi yang
lain. Maka spiritual harus tetap dijaga, baca al Quran dan salat malam harus tetap
berjalan,
Ikhtiar lain yang tidak kalah penting adalah berdoa kepada Allah agar tidak
menjadi bagian yang terkena wabah sekaligus mendoakan mereka yang telah jadi
pasien positif Covid-19. Doa adalah kekuatan orang beriman. Doa bisa
menyelamatkan seseorang dari bencana.
Selain doa, ketika dalam kondisi seperti ini, teringat dengan sabda Rasul
yang menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaat
kepada sesamanya. Maka kalau kita berada dalam kondisi yang sehat, kita harus
tampil menjadi bagian orang yang membawa solusi terhadap permasalahan ini,
0 Response to "Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Pandemi Corona"