Gambaran umum mengenai kondisi
umat Islam dalam dekade terakhir dapat kita
lihat pada salah satu pandangan seorang ulama yang memiliki pangkat Professor
hidup di Amerika Serikat, mengajar di beberapa universitas dan pemimpin
beberapa lembaga Islam yaitu Profesor
Isma’il Raji Al-Faruqi.
Menurut Al-Faruqi, umat Islam pada saat ini berada di anak
tangga bangsa-bangsa terbawah. Bahkan, bukan hanya itu tetapi kaum muslimin telah
dikalahkan, dibantai, dirampas negerinya dan kekayaannya, dirampas kehidupan
dan harapannya. Umat Islam difitnah dan
dijelek-jelekkan di hadapan seluruh bangsa-bangsa. Umat Islam dituduh agresif destruktif,
mengingkari hukum, teroris, biadab, fanatik, fundamentalis, kuno dan menentang
zaman, sehingga umat Islam menjadi
sasaran kebencian bagi orang-orang non Muslim.
Sangat memprihatinkan
Apabila kita berusaha membaca dari berbagai berita yang menggambarkan situasi negara-negara masyarakat Muslim selama ini, gambaran seperti diungkapkan Al-Faruqi ternyata memang ada. Di sisi lain, kenyataan yang sangat memprihatinkan lagi adalah dunia Islam terus terjadi pertentangan, sesama, perpecahan, pergolakan dan peperangan. Kekayaan yang dimiliki negara-negara Muslim ini berlimpah, tetapi rakyatnya miskin-miskin. Negara Islam terluas dibandingkan dengan negara-negara lain, terkaya, akan tetapi masyarakatnya rata-rata tertinggal.
Apabila kita berusaha membaca dari berbagai berita yang menggambarkan situasi negara-negara masyarakat Muslim selama ini, gambaran seperti diungkapkan Al-Faruqi ternyata memang ada. Di sisi lain, kenyataan yang sangat memprihatinkan lagi adalah dunia Islam terus terjadi pertentangan, sesama, perpecahan, pergolakan dan peperangan. Kekayaan yang dimiliki negara-negara Muslim ini berlimpah, tetapi rakyatnya miskin-miskin. Negara Islam terluas dibandingkan dengan negara-negara lain, terkaya, akan tetapi masyarakatnya rata-rata tertinggal.
Hal itu karena di kalangan
umat Islam terus terjadi pertentangan,
percekcokan, perpecahan bahkan peperangan, maka umat Islam mudah dikuasai, dijajah, sampai
sekarang. Satu di antara sebab umat Islam terpecah-pecah karena selalu
ingin membanggakan suku atau kelompoknya dari kelompok lain, ingin hegemoni
pada suku atau kelompok lain.
Karena di desa-desa terus terjadi
kemiskinan, maka mereka berbondong-bondong pindah ke kota. Tetapi di kota pun
kemudian mereka juga hidup di gubuk-gubuk, karena mereka juga tidak memiliki
skill untuk menghadapai kehidupan kota. Kekayaan minyak dan gas bumi yang telah
diperkenankan Allah Swt kepada beberapa negara Islam, ternyata tidak merupakan nikmat
seperti seharusnya, karena pengolahannya terpaksa diserahkan kepada tenaga
asing --non Muslim-- dan kemudian oknum di pemerintah
masing-masing negara berfoya-foya dengan kekayaan tersebut. Bahkan kekayaan
mereka disembunyikan dengan menyimpan uang di bank-bank luar negeri. Hal ini
juga sesungguhnya memperkuat kelompok yang tidak menghendaki umat Islam hadir untuk memimpin dunia.
(Ismai’il Raji al-Faruqi, Islamization of
Knowledge: General Principles and Workplan, terj. Anas Mahyuddin, Bandung:
Penerbit Pustaka, hal. 1-2).
Bagi seorang Muslim, seharusnya Memiliki cita-cita
menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin.
Karena Islam yang rahmatan lil ‘alamin bukan
hanya memberi kesejahteraan dan kenyamanan hidup untuk umat Islam saja, tetapi akan menjadi
penyejuk bagi semua umat manusia yang ada di permukaan bumi, bahkan juga
alam-alam sekelilingnya. Jika tidak mempunyai cita-cita tersebut maka
umat Islam tidak pernah menjadi umat yang
disenangi kehadirannya.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M
Zainal Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), mengungkapkan pentingnya
fokus agenda periortas umat. Umat perlu memahami apa-apa yang menjadi agenda
prioritas umat yang baik. TGB menyatakan umat Islam memiliki kepentingan bersama
dalam persatuan kemajuan bangsa. Insya Allah kalau sudah mempunyai semangat
persatuan agenda umat Islam akan lebih
mudah kita laksanakan. Umat Islam selanjutnya
perlu memprioritaskan agenda keummatan yang penting bagi kemaslahatan
masyarakat. Salah satunya terkait ekonomi kerakyatan.
Dengan jumlah umat Islam yang besar dan mayoritas
kemajuan Indonesia sangat tergantung pada umat Islam. Mengisi setiap ruang yang khidmat di
republik ini. Menurutnya umat Islam tak terus menerus
memperbincangkan perbedaan dari sisi ibadah seperti membaca kunud, jumlah
rakaat tarawih, membaca zahar atau sir. Sebagaimana tingginya toleransi
umat Islam dengan umat non muslim, tolerasi
dan saling menghargai sesama umat Islam itu sendiri, seharusnya juga
dibangun sikap saling menghormati dan berlapangkan dada jika ada perbedaan.
Jika sudah ada semangat persatuan, agenda umat akan lebih mudah kita laksanakan.
Umat Islam perlu menumbuhkan dan memahami
apa yang menjadi prioritas umat dengan baik.
Sesuatu yang perlu didahulukan ya
didahulukan dan sesuatu yang dirasakan yang tidak terlalu mendesak bisa
ditunda. Persatuan umat Islam merupakan
sumber energi yang sangat besar bagi kemajuan. Di masa penjajahan Belanda
umat Islam dibiarkan tumbuh bermacam-macam
organisasi umat termasuk mendirikan masjid-masjid. Tetapi kalau umat sudah
berkumpul dan bersatu maka diusahkan pecah agar mudah mereka mengasai. (Tausiah
Tuan Guru Bajang (TGB) Muhamamd Zainul Majdi, di Pondok Pesantren al-Mizan
Kabupaten Lamongan, Republika co.id, 28/4/2018).
Apa agenda ke depan?
Lalu apa agenda dakwah kita ke depan? Sebagaimana pembagian ilmu yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali ada ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah, maka dakwah awal harus kita fokuskan yang fardhu ‘ain.
Lalu apa agenda dakwah kita ke depan? Sebagaimana pembagian ilmu yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali ada ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah, maka dakwah awal harus kita fokuskan yang fardhu ‘ain.
Umat dan bangsa yang alamnya subur
makmur ini masih diimpit banyak beban berat di punggungnya. Ratusan ribu hingga
jutaan anak-anak negeri harus mengais nasib di luar negeri dengan segala beban
dan derita, hatta harus meregang nyawanya. Meski banyak yang sukses tetaplah
rindu rumah kampungnya.
Jika di negerinya sendiri terbuka
lapangan kerja yang leluasa maka mereka tidak lah akan pergi mengadu nasib di
negeri orang. Sementara anak-anak bangsa di tanah air harus mulai bersaing
dengan tenaga asing yang berbondong-bondong membanjiri negeri ini dengan segala
kemudahannya. Umat dan bangsa ini masih tertinggal secara ekonomi, dari yang di
bawah garis kemiskinan hingga ambang batas hidup yang pas-pasan.
Jumlah mereka mayoritas, tetapi
rentan dalam ke-dhuafa-an dan dikalahkan oleh segelintir penduduk yang
menguasai mayoritas dan aset dan kekayaan negeri nyaris tak terbatas tanpa
kehadiran negara. Memang umat dan rakyat di negeri ini pandai hidup prihatin
dan tahan menderita, tetapi bukan berarti mereka nyaman dalam derita
kemiskinannya
Demikianl artikel ini semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca

0 Response to "KONDISI UMMAT ISLAM PADA SAAT INI"